Komite Fotografi DKAB Dorong Lahirnya Pusat Arsip Visual Aceh Barat

Pojok Suara | Aceh Barat – Komite Fotografi Dewan Kesenian Aceh Barat (DKAB) memaparkan sejumlah program strategis dalam forum Rapat Kerja (Raker) DKAB periode 2025–2029 yang berlangsung di Aula Gedung C BKPSDM Aceh Barat, Sabtu (23/05/2026).

Forum tersebut turut dihadiri Kabid Kebudayaan Aceh Barat, jajaran pengurus DKAB, serta seluruh perwakilan komite seni di bawah Dewan Kesenian Aceh Barat.

Dalam pemaparannya, Ketua Komite Fotografi Dewan Kesenian Aceh Barat, Ariffahmi, menyampaikan bahwa Komite Fotografi tidak hanya fokus pada dokumentasi kegiatan, namun juga memiliki visi besar dalam pengembangan arsip visual dan digitalisasi seni budaya Aceh Barat.

Menurutnya, fotografi memiliki peran penting sebagai media dokumentasi sejarah, promosi budaya, dan penyimpanan identitas daerah yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

Fotografi bukan hanya sekadar mengambil gambar, tetapi bagaimana karya visual mampu menjadi arsip sejarah, media promosi budaya, dan wajah Aceh Barat di masa depan,” ujar arif di hadapan forum raker.

Dalam draft program kerja yang dipaparkan, Komite Fotografi Dewan Kesenian Aceh Barat merencanakan berbagai kegiatan seperti workshop fotografi, pelatihan, hunting foto, dokumentasi event budaya, publikasi media, pameran fotografi tahunan, hingga penerbitan buku dokumentasi visual.

Selain program pengembangan sumber daya manusia, Komite Fotografi juga mengusulkan pembangunan gedung galeri fotografi dan seni budaya Aceh Barat sebagai pusat dokumentasi, ruang pamer, edukasi, dan apresiasi karya seni visual daerah.

Gedung galeri tersebut nantinya diharapkan menjadi tempat berkumpulnya para seniman, fotografer, komunitas kreatif, pelajar, hingga masyarakat umum untuk mengenal dan mempromosikan kekayaan budaya Aceh Barat.

Arif menjelaskan bahwa keberadaan galeri sangat penting untuk mendukung perkembangan seni visual sekaligus menjadi ruang arsip budaya yang berkelanjutan.

Selama ini banyak dokumentasi budaya yang tersimpan secara pribadi dan tidak terarsip dengan baik. Kami berharap ke depan Aceh Barat memiliki galeri yang mampu menjadi pusat penyimpanan dan pameran karya seni budaya daerah,” katanya.

Tidak hanya itu, Komite Fotografi DKAB juga mengusulkan pembangunan website digital seni budaya Aceh Barat yang akan menampilkan berbagai dokumentasi seni, budaya, adat istiadat, sejarah daerah, foto kegiatan, video, artikel, hingga arsip visual Aceh Barat secara digital dan terintegrasi.

Website tersebut dirancang menjadi media publikasi modern yang dapat diakses masyarakat luas, baik di tingkat daerah maupun nasional, sehingga seni budaya Aceh Barat dapat lebih dikenal di era digital.

Ke depan kami ingin semua seni budaya dan adat Aceh Barat terdokumentasi secara digital melalui website. Jadi masyarakat bisa mengakses informasi budaya daerah dengan mudah, sekaligus menjadi media promosi wisata dan kebudayaan,” jelas arif.

Ia menambahkan bahwa digitalisasi budaya menjadi langkah penting dalam menjaga identitas daerah di tengah perkembangan teknologi dan media sosial yang semakin pesat.

Dalam pelaksanaannya nanti, Komite Fotografi DKAB juga membuka ruang kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Aceh Barat, Event Organizer (EO), komunitas kreatif, media lokal dan nasional, sekolah, kampus, hingga masyarakat umum.

Program tersebut mendapat perhatian dan apresiasi dari peserta forum raker karena dinilai menjadi langkah maju dalam pengembangan seni budaya berbasis teknologi dan penguatan identitas daerah melalui media visual.

Raker DKAB sendiri menjadi agenda penting dalam menyusun arah program kerja seluruh komite seni untuk masa bakti 2025-2029 agar mampu bergerak lebih aktif, kreatif, profesional, dan kolaboratif dalam mendukung perkembangan seni dan budaya di Kabupaten Aceh Barat.

Melalui program yang dipaparkan tersebut, Komite Fotografi DKAB diharapkan mampu menjadi motor penggerak lahirnya arsip visual daerah sekaligus memperkenalkan seni, budaya, dan adat Aceh Barat kepada masyarakat luas melalui pendekatan digital yang modern dan berkelanjutan.

Penulis: RedaksiEditor: Redaksi